by Donna Trianty
Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Apr 4, 2011

PERILAKU MENARIK DI DALAM LIFT (Cerpen)

Menarik juga hal ini. Mungkin ada rekan2 di sini yang sering menonton acaraCandid Camera di TV. Para crew acara tersebut biasanya mengerjai orang2 sehingga mereka melakukan apa yang tidak akan dilakukan dalam keadaan normal.

Kasus "invisible fish" misalnya. dalam cerita tersebut, di suatu pet shop,sengaja dipasang aquarium kosong di tengah ruangan dengan label "invisible fish". si "penjaga" pet shop ternyata berhasil meyakinkan orang2 yang memperhatikan aquarium itu kalau di dalamnya ada ikan yang tidak kelihatan.

Penjaga tersebut secara tidak sadar mempraktekkan apa yang disebut Stephen Long (www.stephenlonggroup.com) sebagai "creeping commitment" dalam tulisannya "The 6 Laws of Unconscious Influence".

Ini dilakukan dengan membuat pengunjung pet shop tersebut mengiyakan perkataan si penjaga. pembicaraannya berlangsung seperti ini:

* Penjaga: kamu lihat airnya bergerak kan?
* Pengunjung: iya
* Penjaga: kamu lihat ujung ekor ikan tersebut kan? (sambil menunjuk ke satu titik dalam aquarium)
* Pengunjung: iya (pura2 karena malu tidak bisa melihat)
* Penjaga: nah itu kepalanya, kelihatan kan?
* Pengunjung: iya ya.. (jadi agak yakin, walau masih pura2)
* Penjaga: nah ini dia lebih dekat lagi. sekarang kamu melihat keseluruhan ikan tersebut kan?
* Pengunjung: iya .. tuh dia bergerak.. bagus juga bentuknya..

Pengunjung itu bisa dibuat menjadi "melihat" ikan yang tidak kelihatan tersebut.
Karena malu kelihatan berbeda dengan penjaga pet shop yang dianggap lebih ahli,pengunjung tadi membuat dirinya jadi bisa melihat ikan yang tidak kelihatan itu.
(Buat yang masih bingung, aquarium tersebut memang kosong. Mana ada ikan invisible).

Manusia pada dasarnya tidak mau kelihatan berbeda. Karena itu hal2 yang berbeda malah ditakuti, dinista dan dijauhi. Tapi ada kalanya manusia jadi ikut2 berbeda, jika keadaan yang dihadapinya berbeda.

Contoh lain saya peroleh dari Candid Camera juga. Seorang pria masuk ke ruang tunggu dokter. Di dalam dia terkejut karena semua orang di ruang itu, pria dan wanita, hanya memakai baju dalam. Ada yang membaca koran, ngobrol, dan lain2 seolah2 tidak perduli dengan keadaan mereka. Orang lain kemudian masuk, membuka pakaiannya, dan memberikannya pada perawat yang juga tidak berpakaian.

Pria yang pertama tadi akhirnya mengikuti perilaku ini: membuka pakaiannya, memberikan pakaiannya pada perawat, dan dengan patuh duduk menunggu gilirannya dipanggil.. hanya dengan cawat!

Cerita di lift juga terjadi di Candid Camera. Seorang masuk dan mendapatkan semua orang di lift tsb berdiri membelakangi pintu masuk lift. Awalnya dia ragu,tapi kemudian ikut berdiri dengan posisi itu.. tanpa tahu kenapa harus melakukannya.

Moral of the story: Manusia umumnya tidak ingin berbeda. Karenanya dia berusaha membuat dirinya menjadi sama dengan orang lain (pernah heran kenapa semua orang di mal berpenampilan mirip satu sama lain?).

Padahal perbedaan sebenarnya baik. Perbedaan adalah hasil kreativitas. Mungkin seharusnya kita mempromosikan perbedaan.hehe^_^

CINTA DAN KEGILAAN (Cerpen)

          Pada masa dulu, ada cerita menarik sebelum dunia diciptakan seperti yang kita kenal sekarang dan manusia belum lagi menginjakkan kakinya di sana, semua sifat kebaikan dan kejahatan berkeliaran tak tentu arah dan merasa bosan, tak tahu apa yang hendak dilakukan.

Suatu hari, mereka berkumpul dan merasa lebih bosan lagi daripada sebelumnya, sampai ketika Kecerdikan mengemukakan usul : "Mari kita bermain petak umpet". Mereka semua menyukai ide tsb, dan secara tiba2 Kegilaan berteriak : "Aku ingin menghitung, biar aku saja yang menghitung!"

Dan karena tidak ada yang cukup gila untuk ingin mencari kegilaan, semua yang lain setuju saja. Kegilaan segera bersandar ke pohon dan mulai menghitung,"Satu, dua, tiga...". Sementara Kegilaan menghitung,semua sifat kebaikan dan kejahatan tsb bersembunyi. Kelembutan menggantung dirinya di ujung bulan,Pengkhianatan bersembunyi di tumpukan sampah.


* Kasih sayang bergulung di antara awan, dan Nafsu Kegairahan pergi ke tengah2 bumi.
* Kebohongan berkata akan bersembunyi di bawah batu, tapi ternyata justru bersembunyi di dasar danau.
* Sementara itu, Ketamakan masuk ke dalam kantung yang kemudian ternyata dirobeknya karena tidak muat.
* Dan Kegilaan masih terus menghitung, "Tujuh puluh sembilan, delapan puluh, delapan puluh satu.. "

Ketika itu, semua sifat tsb telah bersembunyi - kecuali Cinta. Seperti keragu-raguan dalam cinta, dia tak bisa memutuskan kemana harus bersembunyi. Dan ini tentu tidak mengejutkan karena kita semua tahu betapa sulitnya menyembunyikan cinta. Pada saat Kegilaan sampai pada hitungan ke-100, Cinta segera melompat bersembunyi ke kebun bunga Mawar. Dan dengan bersemangat Kegilaan berbalik dan berteriak, "Bersiaplah, ini aku datang! Akan kutemukan kalian semua"

Kemalasan adalah yang pertama ditemukan, karena dia bahkan tidak punya energy untuk mencoba bersembunyi. Kemudian, secara hampir beruntun. Kegilaan segera menemukan Kelembutan di ujung bulan, Kebohongan di dasar danau dan Gairah ditengah2 bumi. Satu persatu Kegilaan menemukan mereka semua -kecuali lagi2 Cinta.

Kegilaan mulai menjadi semakin gila karena putus asa untuk menemukan Cinta. Tapi Kecemburuan yang iri pada Cinta karena belum juga ditemukan, berbisik pada Kegilaan, "Kau hanya perlu mencari Cinta, dan dia bersembunyi di semak bunga Mawar."

Kegilaan mengambil garpu taman dan menusuk2annya serampangan ke arah semak Mawar. Dia terus menusuk2 sampai terdengar suara tangis memilukan yang membuatnya berhenti. Cinta keluar dari persembunyiannya sambil menutup mukanya dengan tangan. Di antara jari2nya mengalir darah segar yang ternyata berasal dari kedua belah matanya.

Kegilaan yang terlalu bersemangat untuk menemukan Cinta, tanpa sengaja telah melukai mata dari Cinta. "Apa yang telah kulakukan!" teriaknya menyesal. "Aku telah membuatmu buta! Bagaimana aku harus memperbaikinya?" Cinta menjawab, "Kau tak mungkin memperbaikinya. Tapi kalau kamu bersedia melakukan sesuatu untukku, kamu bisa menjadi guide-ku."

Dan semenjak itulah, Cinta itu buta namun dia bisa melihat dalam kegelapan, karena dia selalu didampingi oleh Kegilaan...^^

Dec 5, 2010

tomorrow never come

Ternyata aku memang mencintainya. Setiap malam aku memikirkan ini, dan sekarang baru aku merasa yakin kalau rasa ini memang hanya untuknya. Semakin aku mengenalnya, seakan aku tak bisa lepas lagi darinya. Michelle, aku sangat mengagumimu. Sosok yang begitu sederhana. Yah, alasan itulah yang selama ini membuatku tak berani meneruskan rasa ini. Aku, seorang pemilik bisnis komputer yang cukup terkenal, tak mungkin bisa jatuh cinta pada seorang gadis biasa seperti dia. Aku yang lulusan S2 sebuah PTN terkenal di Jakarta tak mungkin bersama gadis yang hanya lulusan SMA. Aku yang terus berprestasi sepanjang masa studiku hingga sekarang berkarir, tak mungkin berniat serius dengan anak seorang pemilik warung pinggir jalan seperti dia. 6 bulan lebih aku tetap pada pemikiranku itu. Sungguh, aku tak mungkin bersama dia. Apa kata dunia bila aku pacaran, dan akhirnya mengikat janji dengan gadis yang tak setara denganku?Dan aku yakin bisa menghilangkan rasa yang sebenarnya telah tumbuh sejak pertama bertemu dengannya, di warung milik ayahnya. Sampai hari ini tiba. Keyakinanku goyah. Yah, ternyata semua prediksiku salah. Aku tak bisa melupakannya, sedetik pun. Terlebih akhir-akhir ini. Entah apa yang membuatku begitu mengaguminya diantara gadis-gadis lainnya. Ada banyak pilihan buatku, gadis selevel, pintar, berkarir, dari keluarga yang disegani, tapi aku tak pernah bisa memilih. Tak ada satu gadispun yang sanggup menyita waktu dan pikiranku seperti Michelle. Aku akui setahun yang lalu aku pernah berniat serius dengan salah satu branch office managerku di kantor cabang daerah Surabaya. Dia pintar, disiplin, loyal, dan yang paling penting, dia juga berniat serius denganku. Tapi aku juga tak mengerti kenapa tiba-tiba saja perasaan itu hilang justru setelah kami semakin saling mengenal, dan akhirnya aku membiarkan dia dinikahi seorang staff perbankan rekanan bisnisku. Yap, istilahnya, aku jadi mak comblang untuk orang yang katanya aku sayangi. Aneh kan? Akhirnya setelah aku mengenal Michelle, aku tahu jawabannya. Aku hanya mengagumi saja, bukan mencintai. Dan aku merasa berbeda dengan Michelle. Walaupun sebelumnya ada banyak penyangkalan dan pemikiran rasional atas perasaanku padanya, kenyataannya, aku mengakui sekarang. Aku sedang jatuh cinta!
***
Saat itu aku melihatnya sedang membantu seorang nenek menyebrang di jalanan yang memang sangat ramai. Entah kenapa tiba-tiba saja aku menghentikan laju mobilku dan memutuskan mengikutinya. Ternyata dia lalu masuk di sebuah warung pinggir jalan tak jauh dari tempatku berdiri memandangnya. Pandanganku terus mengikutinya. Dia sibuk melayani pembeli. Dengan tangannya yang cekatan dia membersihkan meja, mengantar pesanan, menerima pembayaran dari pembeli, sesekali menyeka keringat yang menetes di dahinya. Tanpa sadar, hampir dua jam aku disana memandangnya. Dan hal itu berlanjut terus hingga satu minggu. Aku tetap berdiri disana, sampai pada hari ke delapan pengintaianku, aku memutuskan untuk makan di warung itu. Sebuah keputusan sulit karena sebelumnya aku tak pernah makan di pinggir jalan. Aku termasuk orang yang sangat berhati-hati dengan makanan. Tapi toh akhirnya aku masuk juga, dan mulai memilih makanan apa yang akan aku santap. Dia datang, menawarkan menu andalan warungnya. Aku mengikuti sarannya, es kelapa muda dan soto babat tapi tanpa nasi, karena aku tak biasa mengenyangkan diri di pagi hari. Dia berlalu, melayani pesananku dengan bantuan seorang lelaki paruh baya yang akhirnya aku kenal sebagai ayahnya. Saat dia datang lagi dengan pesananku, aku benar-benar tak mengerti apa yang membuatku nekat melakukan ini. Dia biasa saja, sekilas tak ada yang menarik dari wajahnya. Sampai saat aku melihatnya tersenyum pada ayahnya sewaktu mereka asyik bercanda. Akrab sekali. Warungnya memang masih sepi, karena mungkin memang masih terlalu pagi. Dan aku memang sengaja memilih waktu ini agar aku bisa menemukan jawaban atas kelakuan anehku seminggu ini. Akhirnya aku temukan. Kesahajaannya, semangatnya, rasa percaya dirinya, keramahannya, juga senyumnya. Aku terpesona pada dirinya. Hingga berbulan-bulan aku selalu sarapan di warung itu, berkenalan dengan ayahnya. Membicarakan obrolan-obrolan ringan seputar topik-topik hangat yang menjadi headline di surat kabar, hingga cerita soal keluarganya. Ternyata ayah Michelle open mind person, berwawasan, dan sangat bijak menyikapi suatu masalah. Aku tak pernah canggung dibuatnya. Dari obrolan biasa, hingga masalah serius menyangkut masa depanku aku bicarakan padanya. Tak jarang Michelle turut menyela saat dia tak sibuk melayani pembeli. Menanggapi omongan ayahnya yang kadang memang suka diselingi dengan canda. Aku seakan merasa begitu dekat dengan mereka, disamping perasaan lain yang aku rasakan semakin tumbuh subur pada Michelle. Tapi seperti apa yang aku ungkap sebelumnya, aku tak berani mengakui kalau ini adalah rasa cinta, hanya karena status sosial dan keadaan Michelle yang sangat sederhana. Tapi pagi ini, setelah semalaman aku berpikir keras, aku akan mengubahnya. Yah, aku sudah mantap pada pilihanku. Aku sudah tahu banyak tentang latar belakang Michelle. Studinya mandek bukan karena otak Michelle tak mampu, tapi karena dia mengalah untuk adik-adiknya. Tak meneruskan studi tak membuat Michelle berhenti belajar. Banyak yang dia tahu, termasuk masalah komputer. Rasa ingin tahunya sangat tinggi, membuat aku semakin tak bisa melepas pesonanya. Yah, hanya keadaan yang kurang menguntungkan baginya. Dan sekarang, aku ingin sekali membuatnya bahagia. Berhenti memikirkan nafkah untuk keluarganya. Karena aku yakin sanggup menafkahinya, lahir dan batin, termasuk menyekolahkan kedua adiknya. Aku semakin mantap dengan keputusan ini. Segera kupacu Soluna hijau metalikku dengan hati yang tak menentu. Kali ini aku berniat memarkirnya di depan warung ayah Michelle, agar dia yakin aku bisa mencukupi kebutuhan materinya. Selama ini aku memang tak mengenalkan diriku yang menjadi direktur utama perusahaan spare part komputer dengan banyak kantor cabang di seluruh Indonesia. Yang mereka tahu aku hanya seorang wiraswasta yang sedang meniti karir. Aku tak berniat membohongi mereka, hanya saja aku tertarik dengan ketulusan dan keramahan mereka pada setiap orang, tak perduli status sosial mereka. Dan itu menjadi satu bukti padaku, bahwa mereka, terlebih Michelle tak berorientasi pada status dan materi bila mengenal seseorang, berbeda dengan orang-orang yang selama ini berada di dekatku. Setelah tikungan itu aku akan segera sampai, tapi ups!!! Nyaris saja aku menabrak seorang nenek tua yang menyebrang tertatih. Untung aku cepat menguasai keadaan hingga mobilku bisa berhenti di pinggir jalan sebelum sempat menabrak pohon beringin besar di sisi jalan itu. Huff!! Aku menarik nafas lega. Aku keluar, hanya ingin mengetahui keadaaan nenek tua itu. Tapi kelihatannya dia baik-baik saja, hanya agak terkejut sedikit mungkin. Tapi sudah ada banyak orang yang datang dan menolongnya, termasuk Michelle. Dia segera memeluk nenek tua itu sebelum dia menjerit dengan kerasnya. Aku heran melihatnya. Nenek itu baik-baik saja, bahkan sekarang bisa berdiri tanpa bantuan Michelle. Tapi Michelle terus menatap ke arah mobilku sambil meneteskan air matanya. Lirih juga kudengar dia menyebut namaku. Lalu datang ayah Michelle, melihat keadaan dan menenangkan Michelle. Ada segulir air mata jatuh di pipinya. Aku tak mengerti. Segera saja kudekati Michelle, gadis yang ingin kunikahi itu. Aku tak tahan melihatnya menangis tersedu seperti ini. Tapi seakan dia tak melihatku, berlari mendekati mobilku. Ternyata ada banyak orang di sekeliling mobilku, menarik tubuh seorang lelaki muda yang bersimbah darah dari kursi depan mobilku. Aku heran, dan berjalan mendekat. Melihat Michelle yang masih terus menangis, juga ayahnya. Lalu aku melihat wajah itu, penuh darah, tapi aku masih bisa mengenalinya. Dia adalah aku�


Hanya cerpen...^^ bkan sesungguhnya....:p